RSS

An Introduction to unification between intelligible (ma’lum) and Rational agent (‘alim)nal agent (‘

11 May

findDalam perjalanan perkembangan pemikiran filsafat, banyak dari para filosof dan mazhab-mazhab filsafat baik Barat maupun Islam membahas tentang prinsip-prinsip pengetahuan, yaitu berkaitan dengan manusia dalam mengetahui realitas, dimana studi tentang pengetahuan ini dalam filsafat disebut epistemologi, yaitu cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. Masing-masing dari para filosof dan mazhab filsafat tertentu mengemukakan teori-teori yang berbeda mengenai prinsip-prinsip pengetahuan tersebut. Seperti salah satu mazhab filsafat barat yaitu rasionalisme yang berpandangan bahwa pengetahuan itu diperoleh tidak melalui pengalaman, melainkan diturunkan lewat asas-asas apriori. Dan Menurut empirisme yang berpandangan bahwa pengetahuan itu tidak diperoleh secara apriori (mendahului pengalaman), melainkan secara aposteriori (melalui pengalaman). Masing-masing dari kedua kelompok itu hanya beranggapan bahwa alat yang syah yang dijadikan tolak ukur untuk menilai pengetahuan itu hanyalah satu yaitu Indera menurut empirisme dan rasio menurut rasionalisme, meskipun masing-masing para penganut kedua kelompok tersebut itu menunjukan bentuk rasionalime dan empirisme yang berbeda-beda, akan tetapi mereka sama dalam hal prinsip umum yang mereka sepakati.
Jika kita menengok dalam filsafat Islam perihal alat epistemologi, filosof-filosof Islam tidak membatasi dan menghakimi bahwa alat epistemologi yang syah itu hanya satu saja, tetapi mereka menggunakan tidak hanya satu walaupun dalam cakupan dan bidangnya masing-masing. Sebelum mengeksplorasi lebih jauh tentang alat epistemologi yang digunakan dalam filsafat Islam, alangkah baiknya jika kita melihat pembagian ilmu yang dibagi didalamnya karena dari pembagian tersebut kita akan melihat alat epistemologi apa saja yang digunakan. Dalam pembagian umum ilmu, ilmu itu dibagi menjadi dua, yaitu ilmu huduri (knowledge by presence) dan ilmu husuli (acquired knowledge). Ilmu huduri adalah ilmu dengan tanpa perantara atau dengan kehadiran dalam artian bahwa objek pengetahuan hadir secara langsung dalam diri subjek,, seperti cinta, benci, rasa sakit dan lain-lain, sedangkan ilmu husuli adalah ilmu dengan perantara artinya bahwa objek pengetahuan itu tidak hadir secara langsung dalam diri subjek melainkan objek tersebut terpisah dengan subjek yang mempersepsinya. Berkaitan dengan ilmu husuli, ada beberapa potensi dalam diri manusia yang mampu dalam mendapatkan atau menangkap pengetahuan. Yang pertama, potensi indera (sense) yaitu potensi yang ada dalam diri manusia yang bisa menangkap pengetahuan yang bersifat material, baik itu menangkap dengan melihat, mendengar, meraba, mencium dan sebagainya, disini objek pengetahuan itu ada dalam ruang dan waktu dan mempunyai masa, seperti gelas, motor, pulpen planet-planet dan lain-lain. yang kedua, potensi imaginasi (imagination) yaitu sebuah potensi dalam diri manusia yang bisa menangkap bentuk-bentuk, disini objek pengetahuan berupa bentuk-bentuk (form) dimana objek tersebut tidak mempunyai masa, seperti bentuk gelas, meja, buku, dan lain-lain. yang ketiga, potensi akal (intellect) yaitu potensi yang ada dalam diri manusia yang bisa menangkap hal-hal dan makna-makna universal, baik itu didapat kan dengan cara mengabstraksi realitas luar ataupun melaui perbandingan-perbandingan antara maujud-maujud dalam realitas luar. disini objek pengetahuan tidak berupa bentuk dan sesuatu yang bersifat material dan tidak mempunyai masa, melainkan konsep-konsep atau makna-makna universal, seperti konsep universal api, manusia, sebab-akibat dan sebagainya, dan objek pengetahuan yang didapat kan melalui akal disebut dengan intelligible.
Berdasarkan apa yang sudah disebutkan diatas bahwa dalam filsafat Islam kaitanya dengan alat epistemologi, para filosof Islam dalam mencari dan mendapatkan pengetahuan itu tidak menggunakan satu potensi saja, akan tetapi menggunakan semua potensi yang ada dalam jiwa manusia, walaupun dalam cakupan dan wilayahnya masing-masing.
Berkaitan dengan studi filsafat tentang epistemologi, banyak tema-tema penting dan signifikan yang dibahas didalamnya dimana para filsofof biasanya berbeda-beda pendapat dan melayangkan kritiknya terhadap pandangan-pandangan yang tidak disepakatinya. Misalkan tema-tema seperti ilmu husuli, ilmu huduri, alat epistemologi, konsep universal, konsep sekunder falsafi, dan kesatuan intelektor (rational agent) dan yang difikirkan (intelligible). Diantara tema-tema diatas, kesatuan antara rational agent dan intelligible itu menempati posisi penting karena berkaitan dengan jiwa manusia dalam mendapatkan dan menangkap pengetahuan yang mana ini adalah merupakan diantara masalah yang paling signifikan dalam epistemologi. Dalam filsafat Islam studi tentang ini pertama-tama dibahas oleh Ibn Sina, kemudian Suhrawardi, dan Mulla Shadra. Ibn Sina mempunyai pendapat yang tajam berkenaan dengan kesatuan rational agent dan intelligible. Dia menyatakan penolakanya terhadap teori ini berkaitan dengan pengetahuan manusia tentang selain dirinya dalam beberapa tempat dalam bukunya al-Shifa, dan al-Isharat wa’l-tanbihat. Ibn Sina percaya bahwa kesatuan diantara dua hal yaitu secara umum, dan sacara khusus, kesatuan antara rational agent dan intelligible itu tidak mungkin. Penolakanya terhadap kesatuan diantara dua hal ini dikatakan bahwa itu karena merupakan konsekuensi atau hasil dari bangunan ontologisnya. Karena menurutnya dalam kaitannya kesatuan diantara rational agent dan intelligible bahwa jiwa manusia yang merupakan substansi dimana substansi dalam pandangan Ibn Sina itu tidak mungkin mengalami perubahan seperti corruption dan generation. Sedangkan jika konsekuensi terjadinya kesatuan diantara dua hal tersebut, maka akan menimbulkan perubahan pada substansinya. Demikian halnya juga dengan Suhrawardi, ia juga menolak kesatuan tersebut. Akan tetapi, jika kita menengok Mulla Sadra, itu mempunyai pendapat yang berbeda dalam hal ini dengan Ibn Sina dan Suhrawardi yang mana dia mempunyai bangunan ontologis yang berbeda dengan keduanya. Tidak seperti keduanya, bahwa Mulla Sadra itu meyakini dan mengkonfirmasi tentang teori kesatuan antara rational agent dan intelligible. Menurut Mulla Sadra, untuk menerima teori ini, seseorang harus menerima tentang pinsipilitas dan gradasi pada eksistensi. Ia juga membagi beberapa tipe dalam hal kesatuan agar lebih jelas tentang makna kesatuan tersebut, dalam hal ini kemudian dia juga menjelaskan tentang tipe kesatuan apa yang mungkin terjadi diantra dua hal khususnya antara rational agent dan intelligible. Setelah membahas tipe-tipe kesatuan dan memperjelas makna kesatuan, dia juga melayangkan kritiknya terhadap pandangan filosof sebelumnya yang menolak kesatuan antara dua hal tersebut dalam hal ini Ibn Sina.

 
Leave a comment

Posted by on May 11, 2013 in Philosophy

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: