RSS

The Faculties of Soul

13 Apr

f

Jika kita memperhatikan definisi manusia dalam ilmu logika maka kita akan menemukan elemen-elemen atau bagian-bagian baik yang umum maupun yang khusus yang ada pada manusia. Definisi had tam manusia dalam ilmu logika menyebutkan bahwa manusia adalah jins namin khasasun mutaharikun bi al-iradah natiq. Dari defenisi tersebut kita bisa menemukan beberapa unsur nabati seperti tumbuh (namin) dan unsur hewani seperti bergerak dengan kehendak bebas (mutaharikun bi al-iradah) yang ada pada manusia. Unsur pembeda jika kita tengok dari sudut pandang ilmu logika antara manusia dan yang lainya (hewan dan tumbuhan) adalah natiq yang merupakan unsur insani. Berdasarkan hal ini, dalam kaitanya dengan pembahasan fakultas jiwa pun manusia memiliki tiga fakultas yakni fakultas nabati, fakultas hewani, dan fakultas insani.

 Dalam definisi manusia diatas, kita hanya mendapatkan beberapa bagian saja tentang penjelasan fakultas jiwa seperti tumbuh yang merupakan daya dari fakultas nabati. Maka, secara mendetail pembahasan tiga fakultas jiwa manusia itu terurai sebagai berikut; Pertama,  jiwa nabati yaitu fakultas yang bereproduksi, tumbuh, dan makan. Kedua, fakultas hewani yaitu fakultas yang bisa mempersepsi hal-hal partikular dan bergerak dengan kehendak sendiri atau bebas. Ketiga, fakultas insani yaitu fakultas yang memunculkan tindakan-tindakan yang berdasarkan pertimbangan-pertimbangan dan kesimpulan pikiran dan yang mempersepsi hal-hal yang universal.

Jika kita melihat paragraf diatas, maka kita akan melihat bahwa jiwa nabati itu mempunyai tiga daya; bereproduksi, tumbuh dan makan.

Untuk jiwa hewani itu mempunyai dua daya yaitu penggerak (muharrikah) dan persepsi (mudrikah). Berkaitan dengan daya penggerak,  ia terbagi dalam dua bagian:

  1. penggerak sebagai motif (pendorong kearah gerakan) yaitu daya yang jika tergambar bentuk dalam imajinasi baik yang diinginkan atau pun yang tidak diinginkan (dihindari) maka akan mendorong pada sebuah gerakan. Daya penggerak  motif ini juga dibagi dua; syahwat (al-quwwah as-syahwaniyyah) yaitu daya yang memunculkan pada tindakan-tindakan yang diinginkan atau dihasrat berdasarkan pada apa yang dibayangkan karena untuk mencari kenikmatan dan amarah (al-quwwahal-ghadhabiyyah) yaitu daya yang memunculkan tindakan-tindakan yang tidak dinginkan atau dihindari karena bahaya atau merusak.
  2. daya penggerak sebagai subjek yaitu daya yang keluar didalam otot-otot dan syaraf yang berfungsi untuk mengkontak otot-otot dan untuk mendorong urat-urat dan ikat-ikat sendi yang terhubungkan dengan anggota badan menuju posisi dimana fakultas ini mengatur jalanya.

Sedangkan yang berkaitan dengan daya persepsi itu juga dibagi dua yaitu persepsi eksternal dan internal. Persepsi eksternal itu ada lima ; penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan. Untuk persepsi internal itu juga terbagi lima. Pembagianya sebagai berikut:

  1. Phantasia yaitu term Yunani yang artinya imaginasi. Fakultas ini menerima bentuk-bentuk yang dipersepsi atau ditangkap oleh panca indera. Ibn Sina menyebut ini al-hiss al-musytarak atau indera umum
  2. Khayal (imajinasi) atau mushawwirah (formatif) yang berfungsi untuk menyimpan apa yang ditangkap oleh al-hiss al-musytarak.
  3.  Quwwah mutakhayyilah disebut juga fakultas kogitatif bagi jiwa manusia yang berfungsi untuk menyusun atau mengkombinasikan sebagian imajinasi dengan sebagian yang lain dan juga memisahkannya dari yang lain.
  4. Estimatif (quwwah wahmiyyah) berfungsi untuk menangkap makna-makna yang particular.
  5. Fakultas memori (quwwah dhakirah) yiatu yang berfungsi menyimpan makna-makna yang telah ditangkap oleh quwwah wahmiyyah.

            Fakultas insani itu terbagi dua yaitu fakultas praktis dan fakultas teoritis masing-masing dari keduanya memiliki funsi yang berbeda.

Fakultas praktis yaitu fakultas yang menghasilkan tindakan-tindakan tertentu pada badan setelah berdasarkan dengan pertimbangan dan pikiran. Akal praktis memiliki beberapa tiga fungsi. Pertama, jika dinisbahkan dengan fakultas hewani (quwwah ghadabiyah dan quwwah syahwatiyah), maka akan memunculkan kondisi emosional seperti malu, takut dan sebagainya. Kedua, jika dinisbahkan dengan daya estiamsi maka akan memunculkan daya pemahaman tentang benda yang rusak dan kemudian menciptakan benda-benda yang beraneka ragam. Ketiga, jika dinisbahkan dengan akal teoritis, maka akan lahir ide-ide seperti berdusta itu buruk, atau adil itu baik.

Fakultas inilah yang nantinya harus bisa mengontrol fakultas-fakultas seperti fakultas hewani berkaitan dengan gerak dan tindakan-tindakan. Seperti pada quwwah ghadabiyah dan quwwah syahwatiyah jika dibiarkan mendominasi sehingga akal praktis menjadi tunduk padanya, maka tindakan yang keluar pada manusia hanya akan berdasarkan pada apa yang diinginkan dari kedua quwwah tersebut dan ini akan menghasilkan apa yang disebut dengan akal tercela. Misalkan jika muncul dalam diri gairah seksual yang tidak bisa dibendung dan mendominasi pada diri kita, maka kita bisa melakukan hal-hal yang liar (negative) tanpa pertimbangan dan peran akal kita, karena jika akal didominasi olehnya maka akan menjadi pasif. Oleh karena itu, akal praktis tidak boleh didominasi oleh kedua quwwah tersbut melainkan harus mendominasinya dan mengontrolnya dan bukan mematikanya agar terjadi dengan apa yang disebut dengan kesempurnaan pada kedua quwwah tersebut. Jika quwwah ghadabiyah dapat dikontrol dan dikendalikan, maka akan tercipta keberanian. Dan jika quwwah syahwatiyah dapat dikontrol dan dikendalikan maka akan muncul pengendalian diri atas hasrat-hasrat dan keinginan kita.

Adapun fakultas teoritis adalah fakultas yang menangkap dan mencerap makna-makna universal yang bukan materi dan particular, seperti kosep universal manusia, hewan, dan sebagainya. Objek-objeknya berupa intellejible (ma’qulat) yang merupakan universal. Dalam prosesnya akal teoritis ini mendapatkan hal-hal universal, ia melakukan proses tajrid (melepas) atau kita bisa sebut dengan abstraksi. Seperti kita mendapatkan makna universal manusia ketika kita melihat zaid atau kita mendapatkan makna universal hewan ketika melihat kuda dengan melepas katakateristik-karakteristik khusus yang ada pada kuda atau zaid. Dengan melepas karakteristik khusus yang ada pada kuda atau zaid maka kita akan mendapatkan makna universal manusia atau hewan.

 
Leave a comment

Posted by on April 13, 2013 in Philosophy

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: