RSS

beberapa tema dalam filsafat Islam dan Barat

17 Jan

index

  1. Tema-tema dalam filsafat Islam.

  1. Metafisika.

Didalam isu-isu filsafat islam mengenai pembahasan metafisika, kami mengambil teori dari Abu Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh, yang terkenal dengan nama Alfarabi. Seorang filosof yang lahir pada tahun 257H (870M).

Dalam karyanya yang berjudul Falsafah Aristhuthahlis, ia menjelaskan bahwa metafisika itu adalah ilmu yang mempelajari eksistensi-eksistensi (maujud-maujud), dan ada muatan ganda yaitu tentang wujud dan teologi. Artinya bahwa metafisika itu ilmu yang mempelajari tentang konsep-konsep umum tentang wujud, spesies aksiden, kesatuan, sedangkan teologi itu sendiri adalah sebagai bagian dari ilmu universal tersebut, karena Tuhan secara umum adalah prinsip wujud. Menurut al-Farabi ada tiga masalah penting mengenai metafisika yaitu esensi, eksistensi sesuatu, pokok utama segala yang maujud, dan dan prinsip utama mengenai gerak dasar menurut ilmu pengetahuan.

Al-Farabi memulai pembahasan mengenai wujud pertama, sifat-sifat, dan cara-cara-Nya menimbulkan segala sesuatu melalui proses emanasi. Wujud pertama ini menurutnya itu adalah sebagai sebab pertama atau penyebab bagi yang lain. Bersifat sempurna, kekal abadi, terhindar dari keterbatasan, berbeda dengan wujud yang merupakan akibat dari-Nya, wujudnya bukan atas dasar suatu tujuan karena jika begitu, maka tujuan itu adalah lebih awal dari-Nya, tentu yang dimaksud disini adalah Tuhan.

Al-Farabi membagi wujud menjadi dua: wajib al-wujud yang merupakan wujud niscaya dan mumkin al-wujud yang wujudnya itu tidak niscaya, karena wujudnya bergantung pada wujud yang sebelumnya. Dan untuk menerangkan sifat-sifat-Nya itu al-Farabi merujuk pada Al-Quran seperti al-‘alim, al-hakim, al-haq dan sebagainya.

Emanasi pada dasarnya itu bermula pada bentuk tunggal dan bertingkat sampai akhirnya menimbulkan atau menciptakan segala sesuatu yang beraneka ragam. Wujud Allah itu adalah wujud mutlak yang berfikir, sebelum adanya wujud-wujud selain diri-Nya. Yaitu berfikir tentang dirinya yang akhirnya memancarkan akal pertama. Dan akal pertama ini juga berfikir tentang Allah dan terpancarlah akal kedua, kemudian proses ini berjalan terus menerus sampai pada akal yang kesepuluh. Dan akal kesepuluh ini adalah wujud terendah dalam tingkatan-tingkatan wujud immaterial, dimana akal kesepuluh ini sebagai adalah akal terakhir.

Secara lebih jelas proses terjadinya emanasi menurut al-Farabi dapat dijelaskan demikian: Tuhan sebagai wujud pertama dan akal murni dengan menjadikan dirinya sebagai subjek dan sekaligus objek melakukan ta’aqqul (berpikir) sehingga terjadilah pelimpahan. Wujud pertama lahir (wujud kedua dalam urutan emanasi disebut al-Aql al-Awwal). Akal pertama lalu berpikir, memikirkan dirinya sendiri memunculkan al-aqlu al-sani (akal kedua) dan bertaaqqul terhadap dirinya sendiri melahirkan al-samaul ula (langit pertama). Dengan munculnya langit pertama, mulai dari sini emanasi tunggal berubah menjadi plural. Akal kedua atau wujud ketiga berpikir tentang wujud pertama melahirkan al-aqlu al-salis (akal ketiga) atau wujud keempat atau taaqul-nya terhadap dirinya sendiri menimbulkan kurratu al-kawakib atau sabitah (bintang-bintang) begitulah seterusnya taaqul akal atau wujud keempat melimpahkan akal keempat atau wujud kelima hingga sampai akal kesepuluh atau wujud ke sebelas.

  1. Moral

Berbeda yang kami jelaskan pada filsafat moral dari barat yakni dari seorang filosof David Hume, yang akan dibahas berikut. Namun sekarang adalah pembahasan mengenai pandangan filsafat moral dari seorang filsafat islam Abu Bakar Muhammad bin Zakaria Ar-Razi (864-925M), yang lebih dikenal dengan Ar-Razi.

Ar-Razi, menjelaskan tentang filsafat moralnya itu dengan baik, ia menjelaskan tentang tindakan-tindakan, atau sifat-sifat buruk, seperti iri hati, dusta, dan ia juga menjelaskan tentang kebahagiaan, kesenangan dan yang lainya.

Ia dalam teorinya tentang kesenangan, menjelaskan bahwa kebahagiaan ialah kembalinya apa yang telah tersingkir dari kemudharatan, seperti orang yang meninggalkan tempat teduh menuju tempat yang terkena sinar matahari yang panas akan senang ketika kembali ketempat teduh.1

Keseluruhan etikanya difokuskan pada himbauan akal yang mengontrol hawa nafsu, yaitu penting memerangi, dan menekan dan mengendalikan hawa nafsu. Mungkin inilah perbedaanya dengan David Hume yang mengatakan moralitas itu tidak ada kaitanya dengan akal. Sedangkan Ar-Razi yang sudah dikatakan diatas akal yang memfokuskan kajianya mengenai ini dengan himbauan akal. Dari sini kita sudah bisa menemukan perbedaanya antara David Hume dari filsafat Barat dan Ar-Razi dari filsafat Islam.

  1. Jiwa

Pada pembahasan jiwa kali ini mengenai pandangan filsafat islam tentang jiwa, ada beberapa tokoh filosof yang kami sajikan salah satunya dari ikhwan Ash-Shafa.

Ikhwan Ash-Shafa juga mengatakan bahwa manusia itu terdiri dari dua unsur, yang pertama adalah tubuh yang bersifat materi yang terdiri dari air, tanah, api dan udara. Kemdian yang kedua adalah jiwa yang bersifat immateri. Masuknya jiwa kedalam tubuh yaitu karena jiwa melakukan kesalahan seperti Nabi Adam As dan Hawa. Karena kesalahan itu jiwa yang tadinya dialam rohani turun kebumi dan merasuk ketubuh, yang tadinya punya banyak pengetahuan karena masuk kedalam tubuh jiwa menjadi lupa, jadi mengetahui apa-apa. yang ada hanyalah pengetahuan secara potensi. Namun karena jiwa memiliki tubuh jadi ia bisa kembali mendapatkan dan menerima pengetahuan secara actual.

Ketika jiwa itu kembali menerima dan mendapatkan pengetahuan dengan benar, jiwa manusia menjadi suci, dalam hal ini ia menyebutnya sebagai malaikat dalam potensi, kemudian ketika manusia mengalami kematian lepasnya jiwa dari tubuh, barulah jiwa mengaktual menjadi malaikat. Sebaliknya jika jiwa manusia kebanyaan dosa dan kotor, maka disebut setan dalam potensi, kemudian setelah mati barulah jiwa mengaktual menjadi setan.

Berbeda dengan Nasiruddin Ath-Thusi (1201M) yang membagi jiwa kedalam tiga bagian yaitu jiwa manusiawi, hewani, dan yang terakhir jiwa imajinatif. Jiwa manusiawi ditandai dengan adanya akal, dari sini ia membagi akal toeritis dan akal praktis. Akal teoritis merupakan potensialitas, yang perwujudanya adalah konsep yang menjadi nyata terlihat dan pengetahuan. Sedangkan akal praktis itu terkait dengan tindakan-tindakan yang disengaja atau tidak disengaja.

Jiwa imajinatif berkaitan dengan gambaran-gambaran rasa atau perasaan, yang mana jika ia disatukan dengan jiwa hewani yang terjadi adalah kehancuran karena jiwa hewani itu hanya mendorong kita akan kepuasan dan kesenangan (hawa atau nafsu). Namun jika disatukan dengan yang jiwa manusiawi maka akan akan ikut bergembira atau bersedih bersema jiwa itu.

Ar-Razi membagi tentang manusia itu badan dan roh atau jiwa, orang-orang yang mengatakan hal ini berbeda pendapat dalam penetapan spesifik ini:

  1. Empat macam komponen atau campuran yang kemudian mewujudkan badan ini.

  2. Maksudnya adalah darah.

  3. Roh yang lembut dan muncul disisi kiri dari hati, dan mengakses sel-sel keseluruh anggota badan.

  4. Roh yang naik didalam hati ke otak, kemudian membentuk proses yang selaras untuk menerima kekuatan menghafal dan berfikir dan mengingat.

  5. Fisik yang berbeda dengan badan yang dapat diraba ini yang bersifat tinggi, ringan, hidup, yang menyebar kesuluruh tubuh dan memberi pengaruhnya yang berupa rasa dan gerakan.2

Bisa kita bandingkan dengan pembahasan jiwa yang dibahas Plato dengan teori jiwa tripatitnya yang kami bahas berikut, mungkin terlihat sama dengan milik At-Thusi namun dalam istilah berbeda, tapi Ath-Thusi sedikit lebih lengkap karena ia membagi lagi konsep jiwa manusiawinya yang dalam istilah pembahasan Plato disebut akal. Sedangkan Ikhwan Ash-Shafa agak sedikit sederhana. Dan Ar-Razi yang berbeda penjelasanya dan pembagianya, namun ada sedikit kesamaan.

  1. Eskatologi.

Masalah kebangkitan adalah salah satu masalah filsafat dan juga teologi, ini terkait dengan mungkin ataukah mustahil ada kehidupan setelah mati, atau menghidupkan kembali apa-apa yang sudah mati. Demikian juga kaitanya dengan masalah jiwa itu kekal atau tidak,dan terdiri dari apakah tubuh itu, bisa juga apasih tubuh manusia itu, karena dari situ kita bisa melihat bahwa jika manusia dibangkitkan kembali dari kematianya, maka yang bangkit itu jiwa atau tubuh (raga) nya.

Para filosof juga berbeda pendapat mengenai masalah kebangkitan apakah tubuh dan jiwa atau kah jiwa saja yang dibangkitkan. Namun salah satu dari filosof islam yaitu Ibn Sina (Avicienna) percaya kebangkitaan. Dalam salah satu bukunya Al-Syifa, dan Al-Isyarat, dia ingin membuktikan bahwa pahala dan dosa itu dibagikan secara merata kepada tubuh (badan) dan jiwa. Ia mengatakan bahwa bukti kebangkitan dapat diambil dari pengetahuan agama, namun untuk membuktikan kebenaran kejadianya, itu kita harus melihat pada syariah dan hadis nabi, yakni tentang terjadinya kebangkitan jasmani, kebahagiaan jiwa dan kesengsaraannya dapat dibuktikan secara rasional melalui deduksi logika dan Al-Quran dan Hadis yang diakui oleh nabi.3 Filosof Shadr Al-Din Syirazi juga membahas tentang kebangkitan, dan ia juga sama membuktikannya dengan Al-Quran dengan Sunnah.

Masalah mengenai jiwa atau badan yang bangkit ataukah dua-duanya itu merupakan masalah yang bukan sederhana, karena begitu banyak pendapat mengenai hal ini. Ada golongan yang menyatakan yang mati itu adalah roh atau jiwa dengan dalil bahwa tidak ada yang kekal kecuali Allah semata, Allah berfirman “dan, tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (Ar-Rahman:27).

Sebagian orang yang menyatakan bahwa badan itulah yang mati dengan argumrn banyak hadis menunjukan kenikmatan dan siksaan roh setelah mati, Allah berfirman: “ Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup disisi Rabbnya dengan mendapati rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia yang diberkan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang.” (Ali Imran:169-170).

Ysng menyatakan badan dan roh yang hidup adalah sebagai berikut “ Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yanga puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jama’ah hamba-hambaku, dan masuklah kedalam surgaku.(Al-Fajr:27-30). Dan Allah berfirman, “ Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanya (susunan tubuh)mu seimbang. “ (Al-Infithar:7). Dapat kita ketahui dari sini bahwa suatu jiwa atau roh membentuk rupa tertentu dibadan, yang membedakanya dengan yang lain. Ia badan yang baik dan yang buruk akan memperoleh hasil dari kebaikan dan keburukannya dan roh yang baik dan yang buruk juga akan memperoleh kebaikan dan keburukanya.4

  1. Kenabian

Banyak pandangan mengenai teori kenabian menurut beberapa filosof, beberapa teori ini beraneka ragamnya, dari mulai Ar-Razi, Al-Farabi, Ibn miskawih, sampai Nasiruddin At-Thusi. Kami mewakilkan teori kenabian berdasarkan para filosof ini.

Ar-Razi adalah seorang filsafat rational murni, ia sangat menjunjung tinggi akal. katanya manusia mempunyai akal yang membedakan dari hewan dan yang lainya, yang bisa memperoleh banyak pengetahuan, bahkan akal bisa mengetahui pengetahuan tentang Tuhan. Ia berpendapat bahwa manusia itu tidak butuh nabi dalam bukunya Naqd al-adyan au fi al-nubuwwah (kritik terhadap agama-agama atau kenabian) nabi tidak boleh atau tidak berhak mengklaim bahwa dirinya itu mempunyai keistimewaan, karena semua manusia dimana Tuhan itu adalah sama, yang membedakan adalah pendidikan dan perkembanganya. Setiap bangsa hanya percaya pada nabinya saja dan tidak mengakui nabi yang lain, dan fanatik terhadap agamanya, sehingga menimbulkan perpecahan dan kekacauan.

Mungkin karena pendapatnya yang ekstrim ini bukunya-bukunya dimusnahkan. Tapi perlu digaris bawahi bahwa ia adalah seorang filosof rasional murni. Banyak orang beranggapan bahwa Ar-Razi itu zindik bukan islam. Menurut Abd al-Lathif Muhammada al-Abad, mereka tidak melihat karya-karyanya yang lain, Ar-Razi mengakui adanya Tuhan yang Maha Bijaksana dan hari akhir bahkan dalam kitabnya Sirr al asrar atau Bar’u al sa’an ia tidak lupa shalawat kepada nabi.

Al-Farabi dengan teori kenabianya itu karena termotivisir pemikiran filosof sebelumnya yang berpendapat bahwa manusia tidak butuh nabi, karena filosof juga bisa menangkap hal-hal yang diluar jangkauan indera dan sehingga dapat berhubungan dengan akal 10 (jibril).

Menurutnya manusia dapat berhubungan dengan akal Fa’al itu dengan dua cara: pertama penalaran, renungan pikiran dan kemudian yang kedua adalah imajinasi, intuisi atau ilham. Cara yang pertama itu hanya mungkin diraih oleh orang-orang pilihan yang sudah melatih akalnya, dalam hal ini kita sebut filosof. Sedangkan cara yang kedua itu hanya nabi yang bisa karena mempunyai daya intuisi yang tinggi, disamping itu nabi dianugerahi akal dengan kekuatan suci, dan nabi juga berhubungan dengan akal 10 secara langsung.

Al-Farabi mennjelaskan bahwa perbedaan antara filosof dan nabi itu adalah bahwa setiap nabi itu filosof, namun setiap filosof belum tentu nabi.

Bagaimana dengan Nasiruddin At-thusi? Ia menjelaskan bahwa mempunyai sifat seperti kebebasan bertindak, sehingga hal ini menimbulkan konsekuensi terjadinya kekacauan didunia, oleh karena itu manusia perlu peraturan Tuhan yang suci untuk membibing manusia. karena Tuhan tidak terjangkau maka manusia memerlukan nabi, yang nantinya bisa mengatur kehidupan social, politik, dan moralitas manusia.

Sedangkan Ibn Miskawih penjelasanya hampir sama dengan al-Farabi. Manusia itu butuh nabi karena nabi itu sumber informasi-informasi untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan dan moralitas dengan yang baik. Menurutnya filosof memperoleh pengetahuan itu pertama dari daya indera, terus kedaya khayal, kemudian kedaya pikir, dan bisa berhubungan dengan akal aktif (Jibril), sedangkan nabi mendapatkan secara langsung dari akal aktif atau jibril.

  1. Segelintir pembahasan dalam filsafat Barat.

a. Moral

David Hume (1711-1776) seorang tokoh utama empirisme, yang mengatakan bahwa manusia tidak mungkin mengetahui sesuatu atau pengetahuan diluar pengalaman. Dairi sini maka sudah tentu Hume menyankal segala masalah metafisika.

Mengenai masalah etika atau moral hume mengatakan bahwa tidak ada yang baik dan buruk, artinya dalam penilaian suatu kejadian atau tindakan itu pada dirinya tidak ada baik dan tidak ada buruk (jahat). yang ada ada adalah penilaian dari emosi atau perasaan kita mengenai suatu kejadian itu. Contohnya adalah ketika ada seorang anak memukul ayahnya, dalam kejadian ini itu sesungguhnya tidak baik atau buruk, artinya baik dan buruk itu tidak kelihatan. Barulah ketika emosi atau perasaan kita bereaksi dengan spontan menilai ini seperti ini, atau itu seperti itu.

Maka menutut David Hume moralitas itu hanya hal mengenai perasaan. Seluruh moralitas hanyalah satu sistem yang denganya kita mengatur pengalaman yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan dengan cara yang berguna bagi kehidupan bersama.

Dengan demikian Hume berbeda dengan filsafat tradisional yang beranggapan bahwa bersifat moral itu adalah yang menurut pada akal. Penjelasanya yaitu bahwa didalam diri manusia itu terdapat akal budi dan emosi, ketika emosi mucul secara spontan kemudian akal budi mengetahui mana yang benar mana yang salah, maka akal memberitahu atau mengarahkan emosi bertindak kepada yang baik.

Hume menyatakan moralitas itu tidak ada kaitanya dengan akal budi. misalkan kita contohkan ketika kita marah pada seorang teman kita karena suatu hal, tentunya teman kita adalah objek sasaran kita, tapi kita malah menluapkan kemarahan kita dengan tindakan merusak tanaman atau memukul pohon, tentunya tindakan ini tidak rational. Atau ketika kita merasa takut setentgah mati ketika melihat bayangan yang besar, padahal itu hanyalah bayangan dari seseorang atau suatu benda, ini juga tidak rasional. Maka dari itu ia mengatakan bahwa pandangan moral itu tidak ada sangkut pautnya dengan akal. Kemudian mengenai penilaian-penilaian moral juga tidak ada hubunganya dengan akal. Nilai-nilai moral atau tindakan baik atau jahat itu tidak melekat pada sifat orang itu dan tindakanya, karena ini hanya merupakan reaksi dari pengamat yang menilainya.

Manusia secara alami meminatidan menyukai kenikmatan dan membenci sekaligus menolak apa yang terasa tidak nyaman dan tidak enak pada dirinya. Maka dari itu moralitas hanyalah masalah perasaan. Kemudian bagaimanakah cara penilaian moral itu? Hume mengatakan bahwa moralitas mesti berdasarkan emosi hati manusia yang tidak egois menguntungkan diri sendiri. Menurut Hume perasaan ini disebut sebagai cinta kemanusiaan. Karena didalam setiap individu-individu seseorang memiliki cinta kemanusiaan, inilah yang menjadi dasar moralitas umum dan dasar moralitas manusia.

b. Jiwa

Plato mengamati bahwa manusia itu mempunyai esensi. Disamping tubuh (raga) manusia juga mempunyai jiwa, dan ini bukan merupakan hal yang sederhana. Manusia mempunyai tiga elmen, yang pertama adalah yang membedakan manusia dengan yang lainya yaitu akal untuk berfikir, dan kemampuan menggunakan bahasa, kemudian yang kedua adalah elmen rohaniah yaitu rasa benci, cinta, ambisi, semangat, kemarahan, melindungi diri dan yang lainya, kemudian yang terakhir yaitu yang ketiga adalah nafsu badaniah ang berupa dorongan untuk memuaskan hasrat, dan kebutuhan.

Plato menjelaskan ketiga elmen tersebut bahwa elmen pertama yaitu akal adalah tingkatan paling tinggi karena dapat menilai dan mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, oleh karena itu akal menduduki tingkatan pertama, kemudian tingkatan yang kedua itu adalah elmen rohaniah dam yang terakhir itu adalah hawa nafsu merupakan elemen pada tingkatan terendah. Teori ini disebut dengan teori jiwa tripatit.

Jadi bisa dilihat dari penjelasan singkat mengenai teori jiwa tripatit ini, kita bisa tarik kesimpulan karena kemampuan manusia dalam tingkah berfikir itu berbeda-beda, buktinya ada yang bisa menjadi dokter, filosof, bahkan tukang cuci dsb. Tergantung manusia itu sendiri menggunakan akalnya seberapa jauh. Begitu juga mengenai hawa nafsu dan kerohaniaan, manusia mempunyai kecendrungan berbeda, dan juga tingkatanya.

Didalam jiwa juga mempunyai konflik, ketika tingkatan tertinggi dari elmen pertama akal, akan dihadapkan kepada situasi-situasi tertentu. Misalkan ketika seseorang menemukan dalam jumlah besar, hawa nafsu mendorong untuk mengambilnya, tetapi akal berkata lain, untuk mengambil uang itu karena bukan miliknya. Lalu bagaimana mengatasi konflik jiwa, agar kualitas jiwa meningkat? Plato menganalogikan seperti berikut: manusia sebagai akal, elmen rohani sebagai singa, kemudian hawa nafsu sebagai naga berkepala banyak. Untuk menyatukan jiwa atau meningkatkanya yaitu dengan cara membujuk singa untuk membantu manusia menjaga naga agar tetap terawasi.

Artinya dari analogi diatas bahwa elmen-elmen itu harus semuanya digunakan dalam artian semuanya harus seimbang antara elemen satu dengan elmen yang lainya untuk menyatukan jiwa Begitulah salah satu teori jiwa filsafat barat, yang kami ambil dari seorang filosof yaitu Plato.

1 Prof. Dr. Juhaya S. Praja, MA Pengantar Filsafat Islam hal 77.

2 Ibnu Qayyim Al-Jauziyah “Roh” hal 290-291.

3 Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman “Ensiklopedia Tematis Filsafat Islam” hal 177.

4 Ibnu Qayyim Al Jauziyah “Roh” hal 73-74.

 
Leave a comment

Posted by on January 17, 2013 in Philosophy

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: