RSS

Utilitarianisme

12 Jan

index  Dalam etika normative, utilitarianisme itu termasuk turunan dari teleological ethic, dimana selainnya itu terdapat deontology, virtue ethic, dan relativisme. Jika ditinjau dari segi etimologinya utilitarianisme itu berasal dari kata utility yaitu utilitas atau kegunaan, artinya utilitarianisme adalah suatu paham teori etika yang menilai sesuatu yang bermoral itu dari manfaat atau hasil dari suatu tindakan. Maka dari itu utilitarianisme itu disebut concequentialist, yaitu teori yang menilai atau melihat konsekuensi dari suatu tindakan.

  1. Prinsip utilitarianisme

Seperti yang dikatakan diatas bahwa utilitarian itu adalah concequentialist, karena itu suatu tindakan bagi para utilitarian itu secara intrinsic tidak benar dan juga tidak salah, seperti membunuh, menepati janji, korupsi dan lainnya. Jika hanya dari tindakan-tindakan tersebut, itu tidak bisa dinilai salah dan benarnya, justru kebenaran dan kesalahan suatu tindakan itu dinilai dari konsekuensinya. Apabila tindakan tersebut berkonsekuensi buruk maka itu salah, namun apabila tindakan itu berkonsekuensi baik maka tindakan tersebut benar.

Utilitarianisme itu hanya memiliki satu tujuan khusus yaitu jaringan kebahagiaan untuk semua (banyak orang).[1]Manusia dalam bertindak atau melakukan sesuatu itu tiada lain karena dia ingin merasa bahagia, dengan kata lain semua manusia itu bergerak menuju kebahagiaan. Maka dari itu menurut utilitarian hasrat untuk kebahagiaan itu universal, dan semua manuisa secara intuitive itu mengenali bahwa kebahagiaan itu adalah kebaikan tertinggi.

Tidak seperti egoism yang menyatakan bahwa manusia itu bertindak atas dasar atau hanya karena kepentingan dan kesenangan mereka sendiri. Sebaliknya utilitarian itu meyatakan bahwa manusia itu secata alamiah mempunyai sifat simpati dan menunjukan kebahagiaanya untuk orang lain juga. Maka dari itu utilitarian tidak hanya menghitung kebahagiaan untuk sendiri, seperti egoism tetapi kebahagiaan untuk seluruh kelompok sentient beings yaitu suatu maujud yang bisa merasakan senang atau bahagia dan derita atau luka.[2]

karena utilitarian hanya berorientasi pada kebahagiaan untuk sentient beings, dan semua manusia itu mengenalinya secara intuitive dan semua manusia itu begerak menujunaya, maka dari itu menurut utilitarianisme, suatu tindakan itu benar atau bermoral itu jika mempunyai konsekuensi kebahagiaan bagi banyak orang, jika itu sebaliknya, maka tindakan itu dianggap buruk, salah dan tak bermoral. Lalu menurut utilitarian apa yang membuat manusia bahagia? Menurut utilitarian yang membuat manusia bahagia adalah kesenangan (pleasure). Sedangkan luka dan derita itu membuat manusia tidak bahagia. Karena itu kesenangan adalah satu-satunya yang secara intrinsic baik, dan luka atau derita itu satu-satunya secara intrinsic buruk.

Menurut utilitarian dalam menentukan kebahagiaan untuk orang-orang itu tidak didasarkan pada perasaan simpati atau perasaan subjektif seseorang, justru itu harus didasarkan pada dasar atau prinsip yang rasional. Prinsip itu dinamakan prinsip utility atau prinsip kebahagiaan terbesar (the greatest happiness principle).

Teori utilitarian itu dibagi kedalam rule-utilitarianism dan act utilitarianism. Pembagian itu adalah dari para filosof modern bukan oleh utilitarian sendiri seperti John Stuart Mill atau Jeremy Betham. Berikut adalah penjelasan keduanya.

  1. Rule-utilitarianism

Rule-utilitarianism itu berhubungan dengan moralitas tentang kelas-kelas khusus tentang suatu tindakan, seperti mencuri dan menepati janji. Rule-utilitarian menekankan bahwa kita harus mentaati peraturan dalam situasi apapun, bahkan ketika sudah jelas bahwa dengan melakukan tindakan tertentu kita tidak mendapatkan kesenangan namun derita. Karena terkadang dalam situasi tertentu, kita tidak mempunyai waktu untuk menghitung konsekuensi dari suatu tindakan tertentu, apakah akan mendapatkan luka atau derita atau kesenangan. Maka dari itu, dengan mengikuti peraturan umum akan bermanfaat jika kita dihadapkan pada situasi tersebut.

  1. Act-utilitarianism

Act-utilitarianism itu berhubungan dengan moralitas tentand tindakan-tindakan khusus. Tindakan-tindakan seperti membunuh, mencuri, berbohong dan lain-lain itu tidak secara inheren tidak bermoral. karena bisa saja dalam situasi tertentu dengan melakukan perbuatan seperti membunuh, mencuri, berbohong dan sebagainya itu justru dapat menghasilkan kebahagiaan. Maka dari itu menurut act-utilitarianism itu menekankan bahwa suatu tindakan itu harus dinilai dari basis utility daripada dinilai dengan basis peraturan umum.

  1. Kritik terhadap utilitarianism

a). karena utilitarianisme lebih mementingkan kebahagiaan pada orang banyak, maka utilitarianisme tidak menghiraukan kebahagiaan individual. Padahal kita juga harus memasukanya kedalam konsiderasi moral ketika menilai salah dan benar pada suatu tindakan. Utilitarianism akan mengorbankan kebahagiaan sedikit orang demi terpenuhnya kebahagiaan banyak orang. Seperti contoh, disuatu tempat yang metropolitan yang terdapat gedung-gedung dan rumah-rumah mewah dan yang sebagian penduduknya berkelas menengah keatas, terdapat sekelompok kecil orang yang berkelas menengah kebawah menghuni rumah-rumah kumuh yang kecil. Karena mereka penganut utilitarianisme maka demi kebahagiaan banyak orang, sekelompok orang yang menempati rumah-rumah kumuh dan kecil itu akhirnya digusur. Maka dari itu, ini adalah salah satu kelemahan dan kritik bagi utilitarianism

b). karena utilitarianisme itu tidak mendasarkan teorinya pada perasaan dan karakter, tetapi lebih pada prinsip utility dalam suatu tindakan, maka dari itu, utilitarian tidak memperhatikan peran perasaan moral. Padahal jika kita perhatikan bahwa perasaan seperti marah, emosi, menyesal dan sebagainya jika kita menilik dari sudut pandang utilitarianism itu akan dinilai bermoral jika dampak atau konsekuensi dari itu semua menimbulkan kesenangan atau itu akan dianggap sesuai moral jika ditujukan untuk menunjukan atau menebarkan kesenangan pada orang banyak dan mengurangi derita.  Selain itu ketika bertindak dalam suatu tindakan kita juga harus memperimbangkan perasaan dan karakter seseorang. Karena mungkin saja misalkan dalam kasus membunuh seseorang yang tak berdosa demi kepentingan kebahagiaan banyak orang, sipembunuh merasa berdosa dan menyesal atau mungkin keluarga korban merasa luka dan sedih serta menderita. Karena itu akan tidak adil mengorabankan yang sedikit demi kepentingan atau kesenangan yang banyak.

c). kelemahan teori utilitarianism itu nampak karena utilitarian hanya mengklaim bahwa tindakan benar dan salah itu hanya ditentukan oleh konsekuensi dari tindakan tersebut. Padahal untuk dalam beberapa kasus atau mungkin banyak kasus itu kita harus mempertimbangkan banyak hal, tidak hanya dari konsekuensinya tetapi juga hal-hal lain. Namun ini sebenarnya tidak salah bahwa utilitarianisme memandang benar dan salah dari konsekuensi sebuah tindakan, namun itu tidak lengkap karena utilitarian membatasinya hanya pada konsekuensinya. Akan tetapi ini pun tetap saja menjadi sebuah krikitik terhadap utilitarianism.


[1] Judith A.Boss “ethics for life A text with readings” hal 264.

[2] Judith A.Boss “ethics for life A text with readings” hal 265.

 
Leave a comment

Posted by on January 12, 2013 in Philosophy

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: