RSS

kehidupan Sabzawari dan pemikiranya

12 Jan
sabzawari

            Dalam perjalanan filsafat Islam banyak sekali tokoh-tokoh filsafat yang belajar menggunakan teks-teks filsafat karya filosof sebelumnya, seperti halnya filosof pertama al-Kindi yang belajar melalui teks-teks filsafat Yunani seperti karya Aristoteles dan Plato, begitupun selanjutnya al-Farabi yaitu filosof setelah al-Kindi melakukan hal yang sama. Juga untuk Ibn Sina yang belajar melalui karya Aristotels yang akhirnya dikatakan bahwa dia belum memahami walaupun dia sudah membacanya sebanyak empat puluh kali, sampai akhirnya dia menemukan karyanya al-Farabi. Melalui itu para filosof pun menciptakan karya-karya mereka sendiri, dengan ada yang mengkritisi karya-karya sebelumnya, ataupun menerima dan memperluas dan menguraikanya dengan paduan dari pemikiran mereka sendiri. Tak sedikit dari karya-karya mereka yang sulit dipahami, dalam artian bahwa banyak para pelajar filsafat yang sulit dalam memahami teks-teks asli para filosof. Sehingga banyak dari mereka yang memberikan syarah pada karya-karya tertentu agar para pelajar filsafat dapat memahaminya. Sehingga disamping mempelajari tokoh-tokoh yang mendirikan mazhab filsafat tertentu, menjadi penting juga untuk mempelajari tokoh-tokoh yang memiliki peranan penting dalam memperluas dan mengembangkan pemikiran-pemikiran filsafat yang bersangkutan, karena dalam perkembangan filsafat Islam tentu peranan mereka pun tidak bisa diabaikan dan menjadi penting untuk dibahas.

Begitu seterusnya, sampai akhirnya Mulla Shadra (Shadr al-Din Shirazi) yang menciptakan karya terbesarnya yaitu ­al-hikmah al-illahiyah atau al-Asfar yang mana banyak dari para pelajar yang tidak atau belum mampu untuk memahaminya. Dari sini muncullah seorang tokoh yang berperan penting dalam menguraikan dan menjelaskan pemikiran Mulla Shadra yaitu Mulla Hadi Sabzawari melalui karya terkenalnya Syarh-i Manzumah yang mana menjadi buku tentang filsafat yang paling luas digunakan di Persia dan bahkan terus berkembang hingga kini. Beliau adalah penafsir dan pensyarah paling terkemuka Mulla Shadra. Dia merupakan filosof terbesar periode Qajar di Persia dan ditanganya filsafat Mulla Shadra kembali tumbuh subur. Namun amat disayangkan bahwa tidak banyak penulis yang menulis tentang Sabzawari, padahal kita mengetahui bahwa perananya begitu penting bagi perkembangan filsafat pada masa sekarang. Maka dari itu menjadi penting bagi pemakalah untuk membahas tokoh dari Persia ini yaitu Mulla Hadi Sabzawari. Dan semoga dengan tulisan ini bisa menjadi titik awal bagi pemakalah ataupun yang lainya dalam mendalami tokoh-tokoh filsafat Islam.

 Kehidupan dan karya-karyanya

  Mulla Hadi ibn Mahdi Sabzawari adalah filosof besar bangsa Persia lahir pada 1212/1797/1798 di Sabzawar, Khurasan, kota kecil diantara Shahrud dan Nishapur yaitu salah satu kota dinegeri Persia yang terkenal dikarenakan para sufinya dan aliran-aliran Syiah.[1] Ayahnya Hajj Mahdi dianggap termasuk diantara saudagar atau tuan tanah di Sabzawar. Mulla Hadi juga adalah penafsir dan pensyarah yang terpercaya atas Mulla Shadra. Dia juga disebut Plato pada masanya, serta untuk pertimbangan atau ukuran yang baik dia juga dikatakan sebagai Aristoteles.

Ia menyelesaikan pendidikan awalnya dalam bidang gramatika dan bahasa Arab, kemudian pada umur sepuluh tahun, ia pergi ke Masyhad untuk melanjutkan pembelajaranya dalam bidang fiqih, logika, matematika, dan Hikmat.[2] Dia tertarik belajar lebih dalam terhadap ilmu pengetahuan dan filsafat, untuk itu dia pergi ke Isfahan yang pada saat itu masih menjadi pusat  dimana guru-guru yang mahir ilmu filsafat dan teologi itu berada disana.[3] Sabzawari menghabiskan masa pembelajaranya dikota ini selama delapan tahun, dan dibawah naungan gurunya yaitu Mulla Ismail Isfahani dan Mulla ‘Ali ibn Jamshid Nuri. Kemudian dia kembali lagi ke dari Isfahan menuju ke Khurasan dimana dia mengajar disana selama lima tahun. Setelah mengajar dia daerahnya dia kemudian pergi haji ke makkah. Setelah kembali ke Iran yang telah ditinggalkanya selama tiga tahun, dia tinggal di Kirman dimana dia mengajar dan menikah . akhirnya dia menetap di sabzawar dan mendirikan sekolahnya sendiri, sehingga kemudian dia menjadi terkenal dan namanya menjadi semakin besar. Disana kemudian menjadi pusat untuk pengajaran bidang filsafat dan spiritualitas dengan berbagai murid dari belahan dunia datng ke Sabzawar seperti Arab, Azarbaijan dan India. Di kota ini Haji Mulla Hadi mengisi hidupnya selama empat puluh Tahun untuk mengajar dan menulis, serta melatih Murid-Muridnya.

Dikatakan bahwa Mulla Hadi hidup dengan sangat sederhana, dan disamping mengajar murid-muridnya, dia juga mengajarkan rahasia-rahasia tasawuf kepada murid-murid tertentu dan kemudian memasukan mereka ke tarekat.[4] Setelah kehidupan mengajar dan menulis banyak karya akhirnya Mulla Hadi meninggal pada tahun 1295/ 1878, adapun menurut beberapa sumber lain mengatakan bahwa dia meninggal pada tahun 1289/1872-1873.[5]

Mulla Hadi juga menulis banyak karya, namun tidak seperti Mulla Shadra yang seluruh karyanya ditulis dalam bahasa Arab, kecuali satu, Mulla Hadi menulis disamping bahasa Arab juga bahasa Persia. Bukan hanya itu dia juga menulis syair-syair yang penuh dengan inspirasi gnostik dan syair-syair yang berisi tentang filsafat dan Logika. Berikut adalah karya-karya yang ditulis oleh Mulla Hadi Sabzawari:[6]

Sharh-I manzuma-yi hikmat yaitu syair yang berisi atau berhubungan dengan berbagai macam aspek filsafat dengan komentar atau syarahnya.

Sharh-I manzuma-yi Mantiq yaitu verifikasi prinsip-prinsip logika.

Asrar al-Hikam yaitu karya dalam bentuk Persia yang dibuat atas permintaan dari Nasir al-Din Shah Qajar.

Sharh-I Ba-di Muglaqe-yi Mathnawi yang ditulis dalam bahasa Persia atas permintaan Sultan Murad pada masa Nasir al-Din Shah yaitu komentar dan penjelasan beberapa ayat yang sulit dari mathnawi.

Divan-I Asrar.

Havashi bar Shavahid al-Rububiyah yaitu komentar atas karya al-Shavahid al-Rububiyah fi al-Manahij al-Sulukiyah oleh Sadr al-Din Shirazi.

Havashi bar Asfari Sadr al-Din Shirazi.

Havashi bar Mafatih alGhaybi Sadr al-Din Shirazi.

Havashi bar Mabda va-Maadi Sadr al-Din Shirazi.

Sharh alNibrasi fi Asrar al-Asas.

Sharh al-Asma.

Miftah alfalah wa-Misbah al-Najah.

Seperti yang disebutkan diatas banyak pelajar-pelajar yang ingin belajar kepada Mulla hadi bukan hanya dari Iran namun Negara-negara lain juga banyak yang belajar kepadanya. Maka dari itu dia mempunyai banyak murid. Diantara murid-muridnya yang pemakalah bisa sebutkan yaitu Mulla ‘abd al-Karim Qusthani yang menulis keterangan tentang syarh-I manzumah, Shaykh Ali Fadl Tabbati, Mirza Abbas Hakim Darabi Shirazi yang mengajar filsafat di Shiraz dan mempunyai banyak pengikut, Mulla Kazim Khurasani seorang teosofi syiah yang luar biasa yang menyatakan bahwa siapapun yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang filsafat dan metafisika tidak bisa memahami hadith dan tradisi-tradisi dari Imam yang suci. Selanjutnya Agha Mirza Muhammad Yazdi, Mirza Sayyid Abu Talib Zinjani, Mulla Ismail Arif Bujnurdi, dan Mirza Husayn Sabzawari yang mana adalah seorang pengajar di Teheran.[7]

Sumber-sumber doktrin dan pendekatanya

Mulla Hadi Sabzawari tidak dapat dianggap sebagai pendiri mazhab baru karena dia hanya memperluas dan memperjelas ajaran-ajaran dari Mulla Shadra tanpa terlepas dari ajaran-ajaran dasarnya. Seperti halnya karya dari Mulla Shadra yang luar biasa seperti al-hikmah al-illahiyah banyak pelajar yang tidak mampu memahaminya sehingga disini Mulla Hadi sangat membantu untuk menjelaskanya melalui karyanya yaitu Syarh-I Manzumah.

Dalam tulisan-tulisan atau karya-karya dari Mulla Hadi Sabzawari ini banyak bersandar padan asfarnya Mulla Shadra, Qabasat dari Mir Damad, komentar terhadap Hikmat al-Isyraq dari Suhrawardi oleh Qutb al-Din Shirazi, Sharh al-isharat dari Nasir al-Din Tusi dan Shawariq dari Lahiji. Secara umun dia tidak banyak bersandar  pada teks-teks, namun sumber utama pengetahuanya adalah malaikat pembingbingnya yang membuatnya tercerahkan dengan dunia intelligible.[8]

Pemikiran dan ajaran-ajarannya

Pada dasarnya ajaran-ajaran Mulla Hadi itu adalah ajaran-ajaranya Mulla Shadra karena ia adalah penafsir dan pensyarah pemikiran dan karya dari Mulla Shadra, dan ia juga mengikuti gurunya dalam semua aspek ajaranya. Disini pemakalah akan menyajikan beberapa tema-tema atau bahasan-bahasan yang terdapat dalam karyanya yakni syarh-i Manzhumah yang sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Mehdi Mohaghegh dan Toshihiko Izutsu.

a) Kebadihian konsep wujud (self-evident)

Self-evident: understood by itself

Pembahasan ini ingin mengatakan bahwa konsep wujud itu badihi atau dapat dibilang, semua orang itu memahaminya. Seperti seorang anak kecil ketika dia ditanya apakah ibu ada? Atau apakah bapak ada? Anak kecil dapat secara langsung memahami makna ada itu sendiri. Karena wujud itu badihi, wujud itu tidak dapat didefinisikan, seperti dalam bab awal syarah Manzhumah diterangkan bahwa semua term yang mendifinisakan wujud itu adalah hanya  syarkhul ism (penjelasan katanya atau hanya secara leksikal saja), bukan definisi dan bukan juga deskripsi. Menurut Ibn sina juga wujud tidak mungkin dapat didefinisikan karena ia adalah prinsip pimer atas semua penjelasan, jadi dengan sendirinya definisi itu tertolak. Kemudian salah satu dari syarat pendifinisian sesuatu itu adalah definisi harus lebih jelas ataulebih terang dari apa yang didefinisikan, sedangkan tidak ada yang lebih jelas dan lebih terang daripada wujud itu sendiri. Sebab lain mengapa wujud itu itu tidak mungkin didefinisikan adalah wujud itu simple dia bukan jenus dan bukan diferensia juga bukan termasuk dari lima universal (five universal), sedangkan sesuatu yang didefinisikan itu harus termasuk darinya, dan wujud itu bukan dari salah satunya. Maka dari itu konsep wujud adalah badihi (self-evident) dan tidak bisa didefinisikan.

Seperti disebutkan diatas bahwa konsep wujud itu sel-evident, jadi setiap orang mengetahuinya dengan ilmu huduri dan alam mental kita itu secara otomatis menangkap konsepsi wujud tersebut.

Segenap orang yang ingin mencoba mendifinisikan wujud maka akan terkena kesalahan berfikir yaitu daur (Ӧ). Seperti contoh mendifinisikan wujud dengan yang mustahil tidak ada. Maka kata-kata yang dipakaipun juga menggunakan wujud. Atau wujud didefinisikan dengan yang nyata, kemudian kita menyakan apa itu nyata? Maka dia akan menjawab nyata itu yang ada. Inilah yang dimaksudkan dengan daur .

b)   kefundamentalan realitas wujud

      Existence, in our opinion, is fundamentally real. The argument of our opponents is invalid.[9] Kita mengetahui bahwa direalitas eksternal setiap sesuatu itu terdiri dari dua hal, atau ketika kita mengkonsepsi setiap benda direalitas eksternal itu kita mendapatkan dua konsep yaitu wujud dan quiditas seperti halnya manusia kita mendapatkan quiditasnya yaitu hewan yang berfikir dan menetapkan bahwa dia ada.

Para filosof berbeda-beda mengenai dua konsep ini, yakni tentang manakah yang fundamental quiditas atau wujud. Yang memegang wujud sebagai realitas fundamental adalah peripatetic dan mazhab hikmah al-ilahiyah (Mulla Shadra), sedangkan esensi itu adalah esensialisme dari Suhrawardi. Salah satu dari argumen-argumen yang menentang kefundamentalan wujud adalah jika wujud yang menjadi realitas fundamental atau actual, maka pertanyaan yang dilontarkan dari manakah wujud bisa actual? Maka jawabanya akan wujud itu dari wujud, dan wujud yang tadi itu terus menurus hingga menjadi ad infinitum (). Argument itu dikritisi lagi oleh pemegang eksistensialisme bahwa pertanyaan itu tidak sesuai untuk diajukan karena quiditas itu ada dengan sendirinya (self-subsistent) bukan oleh yang lainya.

Bukti bahwa wujud adalah realitas yang fundamental adalah bahwa quiditas itu adalah sumber keberagaman dan perbedaan. Jika wujud bukan realitas fundamental maka tidak akan ada penyatuan antara sesuatu dengan sesuatu yang lainya, karena keberagaman sebagaimana keberagaman itu mustahil terjadi penyatuan, sebagai konsekuensinya adalah maka tidak akan terdapat predikasi yang menandakan kesatuan dalam wujud. Maka dari itu wujud lah yang menjadi  realitas yang real direalitas eksternal.[10]

Argumentasi lain yang mendukung atas wujud sebagai realitas yang fundamental yaitu kita semua meyakini bahwa Tuhan itu tidak terbatas, kalau terbatas maka Dia bukan Tuhan, jika quiditas yang menjadi realitas fundamental maka akan melazimkan Tuhan  juga memiliki quiditas karena Tuhan itu termasuk realitas, namun quiditas itu melazimkan keterbatasan, padahal kita semua mengetahui bahwa Tuhan itu tidak terbatas. Seperti contoh dalam logika bahwa esensi manusia adalah hewan yang berfikir, dari sini kita bisa menemukan batasan-batasan dari manusia, dalam artian bahwa manusia dibatasi dengan hewan yang berfikirnya. Maka dari itu wujudlah yang menjadi realitas fundamental yang tidak melazimkan akan adanya keterbatasan.

Bukti lain yang menyatakan kefundamentalan realitas wujud adalah terdapat maqolah yang menjelaskan bahwa anna al-mahiyah min khaystsu hiya laysat illa hiya, mutasawiyatun nisbah ila al-wujud wal ‘adam yakni bahwa sesungguhnya quiditas sebagaimana quiditas itu tiada lain hanyalah dia, dia bukan wujud dan juga bukan ketiadaan, quiditas itu berada dalam posisi ditengah-tengah diantara wujud dan ketiadaan. Pertanyaanya adalah dari mana dia bisa muncul ada? Jika jawabanya adalah quiditas mampu muncul dengan sendirinya dalam keadaan tersebut dan mengasumsi ada bersama dengan efeknya (atsar) maka akan terjadi pelanggaran hukum identitas yang mana itu tidak mungkin. Maka dari itu yang membuat quiditas ada atau keluar dari posisi yang sudah disebutkan diatas itu adalah wujud yang mana sebagai realitas yang fundamental.

Namun ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa quiditas muncul dari posisi diantara wujud dan ketiadaan itu karena sang Pencipta, namun argumentasi ini ditolak. Karena disanggah dengan pertaanyaan apa yang membedakan quiditas sebelum dia muncul dan setelah dia muncul. Jika jawabanya tidak ada perbedaan setelah dan sebelum quiditas muncul, maka dari dulu dia sudah ada, namun apabila jawabanya adalah perbedaan setelah dan sebelum dia muncul itu adalah wujud atau ada, maka sudah jelas bahwa wujud lah yang menjadi realitas yang fundamental.[11]

c)    Sesuatu yang sudah tidak ada itu tidak bisa kembali ada seperti semula

Banyak terdapat perbedaan pendapat atau argumentasi mengenai apakah sesuatu yang ada kemudian ia tidak ada dan kemudian dia ada lagi itu mungkin. Mayoritas para ahli teologi berpendapat bahwa itu bisa jadi mungkin, namun para filosof dan para ahli teologi yang lain berpendapat lain, menyatakan bahwa itu tidak mungkin. The coming back of what has ceased to exist is an impossibility.[12] Kembalinya sesuatu dari ketiadaan menuju ada seperti sebelumnya bersama segala karakteristik pada waktu dia ada itu tidak mungkin, karena adanya jarak dan waktu yang memisahkan diantara ada yang pertama dan ada yang kedua, yakni ketiadaan. Ada yang pertama ini adalah periode yang pertama, kemudian dipisahkan dengan ketiadaan dan kemudian dia ada lagi yaitu ada yang kedua, dengan ini sesuatu itu tidak seperti semula lagi, maka dari itu, itu tidak mungkin, karena ada di periode yang terpisah dengan ketiadaan.

Sedangkan Ibn Sina menganggap bahwa kemustahilan sesuatu yang kembali ada setelah dia tidak ada itu sudah self-evident pada akal kita.

Bukti lain bahwa kembalinya sesuatu yang pertama dia ada kemudian dia tidak ada, kemudian dia kembali menuju ada lagi, itu membutuhkan sesuatu yang identik dengan sesuatu yang pertama, yang mana itu tidak mungkin karena akan mengimplikasikan pelanggaran hokum identitas. Penjelasanya yaitu sesuatu yang kembali dari ketiadaan kemudian ada itu mengharuskan sesuatu itu sama dengan waktu ada yang pertama, dalam segala aspek dan kualitas bahkan waktu. Maka dari itu, itu tidak mungkin karena sesuatu yang pertama bukan sesuatu yang kedua, juga kalau mungkin akan melanggar hokum identitas.

d)      Wujud mental (dhihni)

A “thing” besides “existence” in the external world has an “existence” by itself at the minds.[13] Para ahli metafisika berpandangan bahwa quiditas disamping yang berada direalitas eksternal (wujud eksternal) dimana terdapat efek atau dampak pada dirinya seperti api yang mempunyai efek membakar, itu mempunyai wujud mental. Akan tetapi wujud sesuatu yang masuk dalam wujud mental ini, tidak memiliki efek, seperti api yang mempunyai efek membakar diluar, atau air yang bisa menghilangkan dahaga direalitas eksternal, itu jika masuk pada wujud mental mereka itu tidak mempunyai efek tersebut, karena jika mereka mempunyai efek diwujud mental, maka kalau api yang masuk, kepala kita akan terbakar.

Namun beberapa dari mereka ada yang menolak tentang keberadaan wujud mental dan menolak eksistensi quiditas di mental . Disini akan dibuktikan bahwa sesungguhnya ada yang disebut dengan wujud mental.

Argumentasi yang mendukung tentang adanya wujud mental yaitu, kita bisa mengkonsepsi gagasan tertentu yang mana memiliki keuniversalan, seperti gagasan universal manusia atau hewan, tentu saja konsep ini ada. Dan universal sebagaimana universal itu tidak mungkin berada di wujud eksternal, universal itu mesti berada di tempat yang lain, yaitu wujud mental.

Bukti lain yang mendukung akan adanya wujud mental yaitu kita dapat mengkonsepsi setiap realitas dalam keadaan yang terlepas dari apapun. Seperti konsep keputihan, atau kehitaman, tanpa kita melekatkannya kepada sesuatu yang lainya, tentu saja seperti ini tidak mempunyai tempat di wujud eksternal, tempatnya adalah di wujud mental.

Argumentasi yang menolak eksistensi quiditas di alam mental adalah substansi (termasuk pembagian dari quiditas) itu independen atau dia dapat berdiri sendiri diluar, namun ketika dialam mental dia ada melalui jiwa dengan fakultas akal yang mengabstraksi dari luar, maka dari substansi yang di alam mental itu sekaligus aksiden (yang tidak berdiri sendiri), karena substansi yang dimental ada melalui jiwa dan ini menyebabkan kontradiksi dalam pengertian bahwa substansi yang independen sekaligus dependen.

Argumentasi diatas ditolak, karena itu tidak kontradiksi, berdasarkan definisi substansi yaitu apabila mewujud diluar, dia tidak memerlukan subjek untuk ada. Disini yang perlu digaris bawahi adalah substansi yang ada luar itu memang berdiri sendiri namun dimental dia tidak berdiri sendiri, ini tidak kontradiksi karena definisi substansi adalah apabila mewujud diluar dia independen, namun substansi tersebut yang sedang dibahas itu berada dialam mental.

e)       Quiditas dan sifat-sifat atau atributnya

What is said in answer to “what?-of-definition” constitutes the “quiddity.” It is also called “essence” and “reality” if it has external “existence”.[14] Quiditas adalah jawaban yang diberikan atas pertanyaan apa itu? Namun jawaban yang diberikan itu bukan penjelasan secara kata, quiditas itu adalah sebuah jawaban yang diberikan terhadap pertanyaan mengenai esensi dari sesuatu. Quiditas bisa menerima atribut-atribut seperti wujud atau ketiadaan, satu atau banyak, universal atau particular. Maka dari itu quiditas sebagaimana quiditas, bukan wujud atau ketiadaan, dan bukan juga sesuatu yang lainya. Kata mahiyah (quiditas) itu berasal dari kata mahuwa, dan ya-nya adalah ya relasi. Dalam bahasa Indonesia mahiyah itu berarti ke-apa-an, seperti ke-batu-an, ke-hewan-an, ke-buku-an dan yang lainya.

Berbagai macam dari quiditas (mahiyah) ini adalah menjelaskan tentang ke-apa-an dari benda-benda dijagad raya ini. Namun perlu diketahui bahwa quiditas yang ada direalitas eksternal ini, itu adalah quiditas yang sudah mengada melaui wujud, seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa quiditas keluar dari posisinya melalui wujud, dalam argumentasi kefundamentalan realitas wujud. Maka dari itu quiditas itu melazimkan keberagaman karena menjelaskan tentang konsep ke-apa-an dan ke-apa-an direalitas eksternal itu banyak sekali, dan juga konsep ke-apa-an satu dengan konsep ke-apa-an yang lainya itu berbeda-beda, seperti contoh konsep ke-pohon-an itu berbeda dengan konsep ke-batu-an. Batu mempunyai esensi sendiri, begitupun pohon juga mempunyai esensinya sendiri, sehingga satu sama lain berbeda.

Kesimpulan

Seorang filosof yang berasal dari Persia yang hidup sepeninggal zaman Mulla Shadra ini yang terkenal sebagai penafsir dan pensyarah gurunya yaitu Mulla Shadra, yang mampu menghidupkan kembali khazanah perkembangan filsafat Islam yakni Mulla Hadi Sabzawari. Ajaran-ajaranya itu mengikuti doktrin-doktrin Mulla Shadra dan memperluas ajaran-ajaranya tanpa keluar dari sifat dasar doktrin-doktrin Mulla Shadra.

Walaupun dia bukan seorang filosof yang memiliki mazhab baru, atau pemikiran baru dalam filsafat Islam namun dia adalah filosof terbesar periode Qajar di Persia. Setelah waktu itu terdapat kekacauan yang diakibatkan invasi orang-orang Afghan sehingga kehidupan spiritual terganggu, namun berkat Mulla Hadi dan murid-muridnya filsafat Mulla Shadra kembali tumbuh. Karya-karya yang ditulis oleh Shadr al-Din Shirazi itu ditemukan banyak kesulitan bagi para pelajar yang ingin memahaminya, disinilah peran penting Mulla Hadi Sabzawari yaitu menjelaskan dan sekaligus mempermudah ajaran-ajaran Mulla Shadra, sehingga para pelajar yang ingin memahami karya Shadra bisa merujuk karya dari Mulla Hadi. Dan salah satu karyanya yang paling terkenal adalah Sharh-i Manzumah yang tersebar luas dan hingga saat ini masih dipelajari oleh para pelajar filsafat Islam bahkan hingga sampai para pelajar filsafat Islam di Indonesia.

 Daftar Pustaka

  1. Penerjemah Mehdi Mohagheg dan Toshihiko Izutsu The Metaphysic of Sabzawari Iran University Press, Tehran, I983.
  2. Penerjemah Sayyid Ali Quli Qara’i The Elements of Metaphysics (Bidayat al-Hikmah) ICAS Press, London, 2003.
  3. Toshihiko Izutsu Strukur Metafisika Sabzawari Penerbit Pustaka, Bandung, 2003.
  4. Henry Corbin History of Islamic Philosophy Kegan Paul International, London, 1993.
  5. Seyyed Hossein Nasr The Islamic Intellectual Tradition In Persia Curzon Press, New Delhi, 1996.


[1] Toshihiko Izutsu Struktur Metafisika Sabzawaril hal vii

[2] Ibid hal viii.

[3] Henry Corbin History of Islamic Philosophy hal 359.

[4] Toshihiho Izutsu struktur metafisika Sabzawari hal ix.

[5] Henry Corbin history of Islamic philosophy hal 359.

[6] Penerjemah Toshihiko Izutsu dan Mehdi Mohaghegh The Metaphysics of Sabzavari hal 25-27.

[7] Henry Corbin history of Islamic Philosphy hal 361-362.

[8] Seyyed Hossein Nasr The Islamic Intelectual Tradition In Persia, hal 306-307.

[9] Penerjemah Mehdi Mohaghegh dan Toshihiko Izutsu The methaphysics of Sabzawari hal 31.

[10] Penerjemah Sayyid ‘Ali Quli Qara’I The elements of metaphysics hal 6.

[11] Ibid hal 6.

[12] Penerjemah Mehdi Mohaghegh dan Toshihiko Izutsu The metaphysicz of Sabzawari hal 80.

[13] Penerjemah Mehdi Mohaghegh dan Tosihiko Izutsu The metaphysics of  Sabzawari hal 54.

[14].Ibid hal 140.

 
Leave a comment

Posted by on January 12, 2013 in Philosophy

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: